Menilik Aturan Baru: Kiper Dihukum Pegang Bola 8 Detik
Penegasan Baru: Waktu Pegang Bola Kiper Kini Hanya 8 Detik
Mulai musim 2025–2026, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi memberlakukan batas waktu delapan detik bagi kiper untuk melepaskan bola setelah menguasainya. Jika kiper tetap menggenggam hingga melewati batas itu, wasit langsung memberikan tendangan sudut kepada tim lawan—mengganti hukuman tendangan bebas tidak langsung yang berlaku sebelumnya.

Kenapa Perubahan Aturan Itu Diperlukan?
IFAB memutuskan aturan ini setelah melakukan uji coba sepanjang musim 2024–2025 di Premier League 2 (akademi Inggris), liga-liga di Malta, dan Italia. Dari lebih dari 400 pertandingan, hanya beberapa kali terjadi pelanggaran batas waktu yang dihukum. Hasil ini menunjukkan bahwa aturan baru efektif memangkas praktik membuang-buang waktu tanpa memberi keuntungan berlebih untuk tim lawan.
Beberapa wasit sebelumnya enggan menegakkan aturan enam detik karena sistem ini dianggap terlalu menghukum dan memberi peluang gol yang tidak adil bagi tim lawan melalui tendangan bebas dekat kotak penalti.
Cara Wasit Menegakkan Aturan: Hitungan Mundur Visual
Wasit memberi peringatan kepada kiper dengan mengangkat tangan setelah tiga detik. Selanjutnya, wasit menerapkan hitungan mundur visual selama lima detik terakhir. Jika kiper masih menahan bola ketika hitungan berakhir, tim lawan langsung mendapatkan tendangan sudut.
Struktur ini memastikan transparansi. Penonton dan kiper bisa melihat dengan jelas kapan batas waktu sudah dekat. Akibatnya, kiper jadi lebih sadar waktu dan permainan jadi lebih dinamis.
Dampak Langsung di Lapangan: Contoh dari Premier League
Salah satu momen penting terjadi saat Burnley melawan Tottenham. Kiper debutan Burnley, Martin Dubravka, memegang bola terlalu lama saat laga baru berjalan beberapa menit. Wasit Michael Oliver pun menerapkan aturan baru, memberi tendangan sudut untuk Spurs. Momen itu memicu gol pembuka dari Richarlison.
Reaksi Para Pakar dan Mantan Kiper
Mantan kiper Inggris Paul Robinson menyuarakan kritik terhadap kebijakan baru ini. Ia merasa memberikan tendangan sudut sebagai hukuman terlalu berat dan mungkin tidak sesuai situasi nyata di lapangan.
Sementara itu, Rob Green mendukung penegakan aturan yang lebih ketat untuk menjaga tempo permainan. Ia yakin ini cara efektif menghadang praktik buang waktu yang mereda pertandingan.
Efek Uji Coba: Berhasil Mengubah Pola Perilaku Kiper
Selama uji coba di Malta, para kiper menguasai bola sebanyak 796 kali—dan mengejutkan, tak satu pun menahan lebih dari delapan detik. Itu menunjukkan bahwa hukuman sederhana tapi konsisten bisa memaksa perubahan perilaku.
Diskusi di kalangan wasit di Reddit juga memberi insight menarik. Mereka menyebut bahwa hitungan mundur visual memberi transparansi lengkap dan membantu memastikan penerapan yang adil.
Perubahan Besar: Bukan Cuma Aturan, Tapi Filosofi Bermain
Langkah IFAB ini mencerminkan tekad meningkatkan dinamika permainan. Goalkeeper tak lagi bisa menunda bola sesuka hati. Mereka harus lebih cepat berpikir dan bertindak. Fans pun dapat menyaksikan permainan yang lebih menarik dan penuh tempo.
Selain aturan delapan detik, musim ini juga menerapkan sejumlah pembaruan lain: hanya kapten tim yang boleh mendekati wasit, aturan penalti “double touch” yang lebih ketat, penggunaan body cam untuk wasit, serta teknologi offside semi-otomatis.
Penutup: Simbol Pemulihan Tempo Sepak Bola Modern
Aturan delapan detik bukan sekadar angka. Ia penegasan bahwa sepak bola modern tak memberi ruang untuk waktu mati. Ia mendorong permainan lebih cepat, responsif, dan menarik. Ketika kiper dilekapi hitungan visual, pertahanan tim lawan punya peluang lebih adil merebut bola.
Kini, fans bisa berharap setiap laga akan lebih hidup. Corner bukan lagi simbol ketidakberdayaan kiper, melainkan konsekuensi logis atas keterlambatan. Semoga saja era baru ini benar-benar membawa sepak bola ke era yang lebih interaktif dan penuh aksi.
Baca Juga : Liverpool vs Bournemouth: Salah Menangis Mengenang Jota